Featured
Posted in KOMBUN, نشأتى

COMFORT MY HEART

Rina pagi ini mempercepat sarapannya. Diantara suapan yang dimasukkan ke mulut, sesekali matanya melirik jam tangan.

“Ayah, tolong antar aku ke stasiun, ya. Aku takut terlambat tiba di kampus.”

“Yasudah, segera selesaikan sarapanmu, Nak.”

Jam menunjukkan pukul 05.45 WIB ketika Rina duduk manis dibonceng ayahnya.

“Ayo, Yah. Ngebut, Yaah…” Seru Rina.

“Iya, ayo baca doa keluar rumah dan naik kendaraan dulu.”

Bismillahi tawakkaltu ‘alallahi laa haula walaa quwwata illaa billaah, subhaanalladzi sakhkhara lana hadza wamaa kunnaa lahuu muqriniin wainnaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun, dengan khusyuk Rina melafadzkan doa dengan suara lirih.

Lima belas menit kemudian, Rina sampai di stasiun. Usai mencium punggung tangan ayahnya, Rina bergegas melewati gerbang. Pikirannya hanya satu, bagaimana secepatnya sampai ke Kampus Negeri di Ibukota. Stasiun Sudimara saat itu mulai dipadati orang-orang yang mau berangkat kerja. Keadaaan stasiun yang ramai seperti hari-hari biasanya berubah didekap cemas ketika petugas mengumumkan adanya kereta anjlok di Stasiun Tanah Abang, sehingga seluruh perjalanan terhenti di Stasiun Tanah Abang.

Bagai tersengat listrik, Rina kaget bukan kepalang. Ada janji bertemu dosen pembimbing pukul Sembilan nanti. Revisi Bab II skripsinya ini harus mendapat ACC dari dosen yang terkenal tersibuk se-prodinya itu. Aduh, bagaimana ini?

Kereta perjalanan Serpong-Tanah Abang tiba di Stasiun Sudimara. Bagai rombongan semut menemukan segepok gula, orang-orang segera menyerbu pintu masuk terdekat mereka. Melihat adegan tersebut, Rina jadi emoh naik kereta itu. Beberapa waktu yang lalu, ia pernah memaksakan diri naik kereta berhimpitan karena ia baru berangkat dari rumah jam 06.30. Keluar dari kereta, badannya pegel-pegel semua dan tulang rusuknya masih terasa nyeri hingga sekarang.

Sepuluh menit berselang, kereta jurusan Parung Panjang-Tanah Abang tiba di Stasiun Sudimara. Sama seperti kereta sebelumnya, Rina berpikir ulang, dan memilih membiarkannya pergi. In syaa Allah akan ada kereta yang lebih kosong. Benar saja, satu menit kemudian pintu serangkaian kereta yang sejak awal terparkir di stasiun Sudimara terbuka lebar. Kereta dan bangku kosong juga AC yang dingin seakan merayu Rina dan penumpang lain. Segera Rina menaikinya.

Rina sedang membaca kabar berita online dan berbagai grup whatsapp. Tak ada yang menarik, Rina mematikan ponselnya. Di sekeliling, para penumpang mulai padat, berdesakan dan bergelantungan. Terima kasih, Ya Allah, aku bisa duduk dengan nyaman. Rina melanjutkan lantunan zikir paginya. Ia selalu merasakan ada hawa dingin yang berhembus diantara ruang emosi ketika berzikir dan berpikir positif. Rasanya sangat adem, seperti tanah tandus yang tersiram hujan. Atau seperti musafir yang melihat oase nun jauh di sana.

Dua puluh menit kemudian, terdengar petugas kereta mengumumkan kereta segera berangkat dan seluruh perjalanan terhenti di stasiun Tanah Abang. Perjalanan kereta kali ini berlangsung sangat lambat. Ngaret satu setengah jam dari perjalanan biasanya.

Rina sampai di stasiun Tanah Abang dua jam kemudian. Ia segera keluar stasiun, mencari Kopaja 19 yang melewati Shelter Transjakarta, Dukuh Atas dan beralih naik Transjakarta. Lisan Rina tak pernah alpa dari zikir ringan, subhaanallahi wabihamdihi subhaanallahil ‘azhiim. Ia merasakan ketenangan dan kedamaian ketika dekat dengan Sang  Pencipta. Meski waktu perjalanan dari rumah ke kampus kali ini menyamai Jakarta-Bandung, ia tidak merasa sangat lelah. Pegel kaki sih iya, tapi lelah fisik dan batin tidak. Ia meyakini keimanan dan campur tangan kekuatan spiritual, menjadikan kemampuan manusia jauh diatas bayangannya.

“Kurasakan ketika hati tenteram dipenuhi zikir kepadaNya, seluruh urusan berat menjadi ringan dan sebaliknya, ketika hati terasa kering dari mengingatNya, urusan sepele menjadi runyam.“

Tepat pukul 10.00 Rina sampai di kampus. Hembusan nafas berat menyiratkan kelegaan dan keletihan. Sepuluh menit lagi ia harus bimbingan. Sebuah pesan masuk ke ponselnya saat Rina berjalan  menyusuri jembatan penyebrangan orang, Rin, Bapak Dosen tidak bisa bimbingan hari ini, ada rapat mendadak. Seketika lautan syukur berdebur di hati Rina. Alhamdulillah Yaa Allah..

Rina segera membalikkan langkahnya menuju kosan. Hari ini ia ingin sholat dhuha di kosan dan beristirahat. Ada beberapa hal yang ingin Rina pikirkan. Betapa bahagianya saat hati dekat dengan Sang Pencipta, segala ketidakterdugaan bisa saja terjadi. Sebaliknya ketika merasa bisa mandiri tanpa uluranNya, seluruh perkara ringan, terasa sangat rumit dan berat.

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (2:186)

Posted in Uncategorized

H.A.T.I

Adakalanya hati diuji dengan fitnah-fitnah kesenangan. Merasa paling pintar, paling hebat, paling paling segalanya. 

Maka, cobalah menunduk melihat tanah. Dari situlah kamu diciptakan dan  ke sanalah kamu dikembalikan. 

Acap kali fitnah itu berupa ujian yang mampu merontokan iman, maka kembalilah pada fitrahmu; pada tugas kewajibanmu sebagai hamba dan Dia sebagai Pencipta. 

Tatkala sepi kian menggigit dan galau itu semakin sakit, ingat cintaNyalah yang paling setia. Dia berikan sebuah hati sebagai pembeda kebenaran yang betul-betul benar dan kesalahan yang dibenar-benarkan.   

Posted in Institut Ibu Profesional

Refleksi NHW #3 : Surat Cinta

Dear my calon suami, apa kabarmu dan kabar keluargamu, Mas? –pertanyaan ini kuajukan sebelum menjadi ‘apa kabar kita dan keluarga kita’? Hehe- Semoga sehat dan selalu dalam lindungan Allah. Aamiin.

Dear mas calon suami, entah berapa pekan atau beberapa bulan atau tahun (?), kita akan bertemu dalam status yang halal. Selama rentang waktu ini, tetap jaga hati, jaga pikiran dan jaga diri ya mas.

Setelah aqad terikrar, mungkin nanti kau akan melihat tingkah lakuku yang bisa jadi jauh dari harapanmu, Mas. Atau anehnya sikapku yang membuatmu geleng-geleng kepala. Namun, nanti setelah waktu itu, tetaplah bersamaku. Menggenggam erat tangan dan mengarahkanku dalam kebaikan.

Dear mas calon suami, kita bertemu nanti dipersatukan oleh keinginan yang sama membina sebuah keluarga. Tak hanya tempat berlabuh kasih dan menyempurnakan agama. Istilah kerennya, membangun peradaban mas, ya peradaban.

Meski kita memiliki latar belakang yang berbeda, didikan orang tua yang beragam, tapi kita harus satukan semangat untuk melahirkan generasi rabbani ya, Mas. Maafkan aku yang nanti akan meminta waktumu untuk diskusi misi keluarga kita. Mas, kita maukan sama-sama berjuang meraih ridhoNya? 😉

Dear mas calon suami, masih banyak waktu kita untuk berbenah dan memperbaiki diri. Selama masa penantian ini, never contact me ya. Bukan apa-apa, aku masih rapuh mas, rapuh menahan godaan lawan jenis. Meski sok tegar di luar, sesungguhnya di dalam hati ini udah meleleh. Wkwk

Yasudah, itu dulu aja ya mas calon suami. Silahkan lanjutkan aktivitasku.. eh, aktivitasmu maksudnya.

 

 

Jakarta, 5-3-2017

Posted in Institut Ibu Profesional

Matrikulasi #3: Bangun Peradaban dari Dalam Rumah 👨‍👩‍👧‍👧

“ Rumah adalah taman dan gerbang peradaban yang mengantarkan anggota keluarganya menuju peran peradabannya ”

Bunda, rumah kita adalah pondasi sebuah bangunan peradaban, dimana kita berdua bersama suami, diberi amanah sebagai pembangun peradaban melalui pendidikan anak-anak kita. Oleh karena itu sebagai orang yang terpilih dan dipercaya oleh yang Maha Memberi Amanah, sudah selayaknya kita jalankan dengan sungguh-sungguh.
Maka tugas utama kita sebagai pembangun peradaban adalah mendidik anak-anak sesuai dengan kehendakNya, bukan mencetaknya sesuai keinginan kita.
Sang Maha Pencipta menghadirkan kita di muka bumi ini sudah dilengkapi dengan “misi spesifiknya”, tugas kita memahami kehendakNya.
Kemudian ketika kita dipertemukan dengan pasangan hidup kita untuk membentuk sebuah keluarga, tidak hanya sekedar untuk melanjutkan keturunan, atau hanya sekedar untuk menyempurnakan agama kita. Lebih dari itu, kita bertemu dengan suami dan melahirkan anak-anak, adalah untuk lebih memahami apa sebenarnya “peran spesifik keluarga” kita di muka bumi ini.
Hal ini yang kadang kita lupakan, meski sudah bertahun-tahun menikah.

Darimana kita harus memulainya?

🙋 PRA NIKAH
===========================
Buat anda yang masih dalam taraf memantaskan diri agar mendapatkan partner membangun peradaban keluarga yang cocok, mulailah dengan tahapan-tahapan ini:

a. Bagaimana proses anda dididik oleh orangtua anda dulu?

b. Adakah yang membuat anda bahagia?

c. Adakah yang membuat anda “sakit hati/dendam’ sampai sekarang?

d. Apabila ada, sanggupkah anda memaafkan kesalahan masa lalu orangtua anda, dan kembali mencintai, menghormati beliau dengan tulus?

Kalau empat pertanyaan itu sudah terjawab dengan baik, maka melajulah ke jenjang pernikahan.

Tanyakan ke calon pasangan anda ke empat hal tersebut, minta dia segera menyelesaikannya.

Karena,

ORANG YANG BELUM SELESAI DENGAN MASA LALUNYA , AKAN MENYISAKAN BANYAK LUKA KETIKA MENDIDIK ANAKNYA KELAK

👨‍👩‍👧‍👧 NIKAH
========================

Untuk anda yang sudah berkeluarga, ada beberapa panduan untuk memulai membangun peradaban bersama suami anda dengan langkah-langkah sbb:
🍀 Pertama temukan potensi unik kita dan suami, coba ingat-ingat mengapa dulu anda memilih “dia” menjadi suami anda? Apa yang membuat anda jatuh cinta padanya? Dan apakah sampai hari ini anda masih bangga terhadap suami anda?
🍀Kedua, lihat diri kita, apa keunikan positif yang kita miliki? Mengapa Allah menciptakan kita di muka bumi ini? Sampai kita berjodoh dengan laki-laki yang sekarang menjadi suami kita? Apa pesan rahasia Allah terhadap diri kita di muka bumi ini?
🍀Ketiga, lihat anak-anak kita, mereka anak-anak luar biasa. Mengapa rahim kita yang dipilih untuk tempat bertumbuhnya janin anak-anak hebat yang sekarang ada bersama kita? Mengapa kita yang dipercaya untuk menerima amanah anak-anak ini? Punya misi spesifik apa Allah kepada keluarga kita, sehingga menghadirkan anak-anak ini di dalam rumah kita?
🍀 Keempat, lihat lingkungan dimana kita hidup saat ini. Mengapa kita bisa bertahan hidup dengan kondisi alam dimana tempat kita tinggal saat ini? Mengapa Allah menempatkan keluarga kita disini? Mengapa keluarga kita didekatkan dengan komunitas-komunitas yang berada di sekeliling kita saat ini?
Empat pertanyaan di atas, apabila terjawab akan membuat anda dan suami memiliki “misi pernikahan” sehingga membuat kita layak mempertahankan keberadaan keluarga kita di muka bumi ini.

👩‍👧‍👧 ORANGTUA TUNGGAL (SINGLE PARENT)
====================================================
Buat anda yang saat ini membesarkan anak anda sendirian, ada pertanyaan tambahan yang perlu anda jawab selain ke empat hal tersebut di atas.

a. Apakah proses berpisahnya anda dengan bapaknya anak-anak menyisakan luka?

b. Kalau ada luka, sanggupkah anda memaafkannya?

c. Apabila yang ada hanya kenangan bahagia, sanggupkah anda mentransfer energi tersebut menjadi energi positif yang bisa menjadi kekuatan anda mendidik anak-anak tanpa kehadiran ayahnya?

Setelah ketiga pertanyaan tambahan di atas terjawab dengan baik, segeralah berkolaborasi dengan komunitas pendidikan yang satu chemistry dengan pola pendidikan anda dan anak-anak.
Karena,

IT TAKES A VILLAGE TO RAISE A CHILD

Perlu orang satu kampung untuk mendidik satu orang anak

Berawal dari memahami peran spesifik keluarga kita dalam membangun peradaban, kita akan makin paham apa potensi unik produktif keluarga kita, sehingga kita bisa senantiasa berjalan di jalanNya.

Karena

Orang yang sudah berjalan di jalanNya, peluanglah yang akan datang menghampiri kita, bukan justru sebaliknya, kita yang terus menerus mengejar uang dan peluang
Tahap berikutnya nanti kita akan makin paham program dan kurikulum pendidikan semacam apa yang paling cocok untuk anak-anak kita, diselaraskan dengan bakat tiap anak, potensi unik alam sekitar, kearifan lokal dan potensi komunitas di sekitar kita.

Kelak, anda akan membuktikan bahwa antara pekerjaan, berkarya dan mendidik anak, bukanlah sesuatu yang terpisahkan, sehingga harus ada yang dikorbankan

Semuanya akan berjalan beriring selaras dengan harmoni irama kehidupan.

Jangan lupa tonton materi tambahan di sini. Happy watching!^^

 

 

Salam Ibu Profesional,

/Tim Matrikulasi IIP/
SUMBER BACAAN
=======================
Agus Rifai, Konsep,Sejarah dan Kontribusi keluarga dalam Membangun Peradaban, Jogjakarta, 2013

Harry Santosa dkk, Fitrah Based Education, Jakarta, 2016

Muhammad Husnil, Melunasi Janji Kemerdekaan, Jakarta, 2015

Kumpulan artikel, Membangun Peradaban, E-book, tanggal akses 24 Oktober 2016

Posted in Institut Ibu Profesional

Refleksi NHW #3: Membangun Peradaban dari dalam Rumah 

  • Alhamdulillah aku dididik dari lingkungan keluarga yang sederhana. Mementingkan kebutuhan dari keinginan. Pernah suatu hari ibuku berjanji akan memberi hadiah jika aku mendapat ranking. Sudah terbayang di benakku akan dibelikan novel Harry Potter. Tiba harinya, dan ternyata ibuku membelikanku kamus al-Munawwir Arab-Indo yang tebalnya menyamai novel Harry Potter. Karena ibuku tau, di Pesantren, kamuslah yang akan banyak membantuku. Aku ingin jadi yang terbaik, maka upayaku adalah banyak menyerap dan menduplikasi kebaikan kedua orang tua, keluarga dan lingkunganku. 
  • Kedua orang tuaku sangat bebas memilih pendapat dan memutuskan pilihan. Mereka membolehkanku berekspresi dan mengeksplorasi banyak hal sendiri. 
  • Alhamdulillah aku tak pernah menyimpan luka kepada orang tua. Aku yakin seberat apapun masalah, jika dikomunikasikan dengan baik, akan bertemu titik temu. 
  • Ya, aku akan memaafkan kekeliruan orang tua dan keluargaku, jika ada. Dan aku mencintai mereka setulus hati (^o^)
Posted in Institut Ibu Profesional

Refleksi NHW #2: Tolak Ukur Sebuah Profesionalitas

Lanjut dari kuliah pekan kedua tentang Menjadi Ibu Profesional, sekarang diminta mengerjakan NHW #2 mengenai checklist indikatornya. Mirip-mirip checklist muhasabah harian yang dahuluu pernah aku buat sih. Bedanya yang ini mesti pake mejamin mata dan menghayal andai aku (udah) jadi istri dan (udah) jadi ibu. Cekidooot..

 

📚NICE HOME WORK #2📚

Bunda, setelah memahami tahap awal menjadi Ibu Profesional, Kebanggaan Keluarga. Pekan ini kita akan belajar membuat

📝✅“CHECKLIST INDIKATOR PROFESIONALISME PEREMPUAN”✅

  1. Sebagai individu
  2. Sebagai istri
  3. Sebagai ibu

Buatlah indikator yg kita sendiri bisa menjalankannya. Buat anda yang sudah berkeluarga, tanyakan kepada suami, indikator istri semacam apa sebenarnya yang bisa membuat dirinya bahagia, tanyakan kepada anak-anak, indikator ibu semacam apa sebenarnya yang bisa membuat mereka bahagia.Jadikanlah jawaban-jawaban mereka sebagai referensi pembuatan checklist kita.

Buat anda yang masih sendiri, maka buatlah indikator diri dan pakailah permainan “andaikata aku menjadi istri” apa yang harus aku lakukan, “andaikata kelak aku menjadi ibu”, apa yang harus aku lakukan.

Kita belajar membuat “Indikator” untuk diri sendiri.

Kunci dari membuat Indikator kita singkat menjadi SMART yaitu:

– SPECIFIK (unik/detil)

– MEASURABLE (terukur, contoh: dalam 1 bulan, 4 kali sharing hasil belajar)

– ACHIEVABLE (bisa diraih, tidak terlalu susah dan tidak terlalu mudah)

– REALISTIC (Berhubungan dengan kondisi kehidupan sehari-hari)

– TIMEBOND ( Berikan batas waktu)

📝

 

CHECKLIST INDICATOR AS A ME

  • Menyimak azan dan menyegerakan sholat maksmial 20 menit setelah azan
  • Membaca Al-Quran minimal 5 lembar/hari
  • Membaca buku minimal 5 halaman/hari
  • Hadir di kajian parenting/pengajian minimal 1x/pekan
  • Menulis di blog minimal 1x/pekan
  • Mencari ilmu baru/passion triwulanan dan memahirkannya
  • Memupuk kemampuan bahasa Arab, Inggris, dan Prancis

📝

 

CHECKLIST INDICATOR AS A SHALEHA WIFE

  • Pendengar suami yang baik, mengalah dan tidak meunggulkan diri
  • Punya jadwal menu makanan sehat dan variatif tiap 10 hari
  • Tampil cantik dan anggun setiap suami pulang kerja
  • Belajar bersama dan menentukan goal keluarga pekanan dan triwulan
  • Up grade ilmu keluarga tiap pekan

📝

 

CHECKLIST INDICATOR AS A THE BEST MOM

  • Belajar dan selalu belajar parenting tiap pekan
  • Membuat crafting bersama anak-anak minimal 2 pekan sekali
  • Membuat jajanan dan camilan sehat
  • Bercerita apa saja sebelum tidur (kesukaan waktu kecil)
  • Berlatih jadi pendongeng yang seru tiap hari
  • Menemani anak ketika belajar dan bermain

 

Bismillah.. checklist ini akan dievaluasi tiap 3 bulan. Semangat zul..

Cukup dulu yah, nerawang targetannya. Hihi.. sekarang saatnya belajar sambil nunggu sang pangeran. 🙂

Posted in Institut Ibu Profesional

Prolog Matrikulasi

Ilmu yang aku ingin kuasai; ilmu pranikah dan bisnis marketing.

Pranikah berkaitan dengan ilmu komunikasi keluarga, pendidikan anak, dan crafting. Sebab kendala terbesar dalam rumah tangga dimulai dari pola komunikasi yang salah.

Mengapa ada crafting di sini? Sebab saya ingin membangun keluarga yang mandiri. Keluarga yang bisa memproduksi kebutuhan primer sekunder yang sederhananya sendiri. Seperti kreasi hiasan rumah, permainan tradisional, merembet ke apotek dan warung hidup. . dan lain-lain masih banyak lagi.

Bagaimana?

Jika dalam sehari ada 16 jam waktu beraktivitas, aku akan gunakan 1 jam untuk belajar ilmu komunikasi, 2 jam ilmu pendidikan keluarga, dan 3 jam untuk crafting. Caranya dengan banyak mengoleksi, merangkum sumber ilmu (internet, buku, seminar), membuat skema hidup, dan mempraktekan kreasi ketika mendapatkan infonya.

Untuk ilmu marketing, aku berupaya membaca buku-buku marketer ternama, mengikuti workshop dan seminarnya dan segera mengaplikasikannya dalam bisnis hijab yang sudah berjalan. Nanti ilmu ini bisa diaplikasikan juga untuk bisnis-bisnis anggota keluargaku, sehingga akan terwujud keluargapreneur, in syaa Allah. Dan estimasi waktu yang aku habiskan dalam sehari sekitar 4-5 jam.

Alhamdulillah setelah mendapat kajian Prolog tentang Adab Menuntut Ilmu ini, saya berupaya untuk mengumpulkan konsentrasi ketika menyimak ilmu. Mencatat (seperti di sekolah dulu), menghargai pemberi ilmu, mengamalkannya segera dan membagikannya agar lebih bermanfaat.

Salam,

 

StudentPreneur

Nuzula

 

Posted in KOMBUN

HOW TO BE A ‘SWAG PEOPLE’?

Kalo jadi single itu aku merasa banyak banget godaan yang menghampiri. Ketika mau kuliah dulu, sejak awal Ibu berpesan untuk tidak menikah sebelum kuliah selesai. Memang sih nggak ada syariatnya persyaratan tadi, tetapi berdasarkan riset sederhana yang Ibu lakukan pada anak tetangga kanan-kiri, banyak mahasiswi di pertengahan kuliah yang menikah akhirnya tidak melanjutkan kuliahnya hingga tuntas. Ditakut-takuti seperti itu, serta ancaman beasiswaku yang akan dicabut kalau menikah, Alhamdulillah 6 September silam aku berhasil menamatkan jenjang Perguruan Tinggiku tingkat S1 untuk konsentrasi Pendidikan Bahasa Arab. Yeay, aku berhasil membuktikan keseriusanku kuliah..!

Tapi ya jangan kesenengan dulu, after wisuda yang dapet ijazah, muncul pertanyaan, ‘kapan nih ija(b)sahnya?’ ZzzzZzz.. bener-bener gak habis pikir aku. Terkadang tabiat orang Indonesia yang kepo itu suka menyakiti orang yang ditanya.

Baiklah, sebagai anggota SWAG Community* yang baik, aku gak perlu berlarut-larut mencari jawaban pertanyaan di atas. Masih banyak kesibukan para single yang bisa mengalihkan duniamu dari memikirkan hal-hal yang menyangkut takdir itu.

  • Perbanyak ilmu kehidupan menjadi calon ayah/ibu yang baik

Usai menyandang status mahasiswa di Perguruan Tinggi, aku kembali menjadi mahasiswa di Universitas Kehidupan. Karena sejatinya hidup adalah long life education. Nggak ada kata berhenti di sini.

life-long-learning
sumber:www.kidhelper.com

Empat tahun dibutuhkan belajar untuk menjadi guru, insinyur dan pekerjaan profesi lain. Dan disayangkan, belum ada kampus yang menyediakan jurusan persiapan menjadi suami/istri yang baik, ayah/ibu teladan untuk menjalani kehidupan. Padahal gelar dan profesi ini pasti dipakai selama hayat di kandung badan tanpa dikurangi masa pensiun.

Dengan era internet yang canggih, belajar menjadi mudah. Jangan lupa adab menuntut ilmu, supaya ilmu semakin berkah.

  • Gabung sama komunitas parenting untuk menggali ilmu dari pengalaman mereka

Dari pada para single menggalau nggak jelas, akan lebih menyenangkan kalo belajar  ilmu tentang keluarga dan anak. Sebagai bekal jika terjadi riak-riak kehidupan.. *ceilaah Masih banyak hal yang perlu dipelajari, lho, diantaranya ilmu komunikasi, manajemen emosi, manajemen waktu, skala prioritas, P3K, penanganan awal ketika anak sakit, mendidik anak, dan jutaan ilmu lainnya. Beberapa  komunitas yang ada seperti Sahabat Ayah Edy, Institut Ibu Profesional, dan lain-lain.

ibu-profesional-square_400x400
sumber:ibuprofesional.com
  • Pertajam semua skill, persiapan mendidik anak nantinya

Sekarang coba bercermin, dan tataplah dirimu. Coba tanyakan apa yang akan kamu berikan untuk pasangan dan buah hatimu kelak. Selain cinta yang alamiah, hal terbaik apa yang akan kamu persembahkan.

Ada kedua tangan (calon) ayah untuk menjemput rezeki, rezekinya ada di pekerjaan apa?

Kedua tangan (calon) ibu untuk mempersiapkan rumah jadi tempat tinggal yang nyaman, sudah mampukah memasak, merapikan rumah dan mengatur perabotan?

Ketika anak sudah hadir, sudah mampukah mendidik agama, menanamkan akhlak dan budi pekerti, mengembangkan bakatnya dan mempersiapkannya menjadi pemimpin masa depan?

img-20160115-wa0007
sumber:shantystory.com

Semua hal ini akan terjawab jika para single mau belajar dan mengembangkan bakatnya di bidang masing-masing. Khusus bagi calon ibu, kemampuan menjahit dan memasak adalah skill dasar yang bisa menjadi penghasilan. Salah satu atau keduanya perlu dikuasai.

Demikian tips how to be a single yang bisa aku bagi. Semoga bermanfaat yah mblo. Jadilah jomblo berkualitas yang sebentar lagi akan datang calon pasanganmu yang berkualitas juga. Selamat memantaskan diri.. :))

*SWAG Community adalah komunitas bebas yang menganut paham Single Woles Anti Galau

Postingan kali ini dipersembahkan untuk Komunitas Blogger UNJ edisi Januari 2017 #KombunJan2017

Posted in Uncategorized

TheSinglematees

Curhat sedikit ya, mayoritas kawan-kawan sekolah madrasah aliyahku sudah menikah sejak 5 tahun belakangan ini. Masih sedikit sekali yan berinisiatif dan berkeinginan untuk melanjutkan studi di Perguruan Tinggi.

Sebuah dialog sederhana dari seorang kawan, memuji usiaku yang masih muda. Sekilas terlihat kerut dan sedih di dahinya.
Adakah ia berfikir usianya skrg dan masanya menikah?

Di sebuah rumah mungil di kawasan pemukiman padat penduduk, terdengar ramai lagu dangdut bertalu talu. Sebuah keluarga kecil yg terdiri dr suami istri dan dedek janin, menempati rumah sewaan sempit . Istrinya Sedang berusaha mengunyah nasi dan ayam goreng kesukaannya. Terlihat sedikit sendu yang sedang berusaha ditepisnya.
Ah bagaimana aku harus bersedih sementara suaminya baru saja membelikan makanan kesukaannya yang baru saja suaminya ketahui semalam? Joy berusaha mengembalikan keceriaan sang bumil. Namun Sadness tak tinggal diam. Ia membisikkan dan mengulang memori masa lampaunya. ia membayangkan ayah pulang dari kantor dan membawa empat porsi ayam goreng. Untuk ayah, ibu, dan dua porsi untuknya. Kedua orang tuanya sangat mendahulukan egoisme sebagai anak tunggal. Ya, masa-masa itu sangat bahagia. Ketika ayah membelikan kebab bukan dari toko favoritnya, ia mengeluh lantang. Ketika ayah keluar kota ia bebas menyebutkan pesanan oleh-oleh tanpa memikirkan nominalnya. Alangkah berbedanya hari ini. Dunia seakan berbalik 360 derajat. Haruskah ia sesali pernikahan yang ia dambakan dulu?

Satu sosok mahasiswi yang tidak bisa diam. Ada saja yang dikerjakannya. Bisa dikatakan setengah plus satu kawan2 lamanya sudah menikah. Dan ada pula yang beranak dua. Ia tak per

Posted in KAJIAN, Uncategorized

Persiapan Menjadi Pahlawan

Bismillah

Ada satu hal yang terasa jauh, padahal itu sangat dekat sekali. Janji yang pasti terjadi. Tak bisa dimajukan apalagi dimundurkan.

Kawan, Kematian enggak pernah mengetuk pintu rumah kita
Ia juga tidak memberikan sinyal yang dapat dimengerti bahasa manusia
Namun ia selalu mengintai sambil menunggu jatah
waktu hidup habis

Kawan, aku pernah menunggui seorang sahabat di rumah sakit. Saat keadaan tidak sadarnya, -maasya Allah- beliau kerap melantunkan hafalan tahfiznya, meskipun tidak beraturan. Beberapa waktu setelah keluar dari rumah sakit, beliau meninggal dalam keadaan husnul khotimah, in syaa Allah. Pelajaran no 1 mengenai persiapan mati: alam bawah sadar adalah alam yang mencerminkan kepribadian seseorang.

Kisah kedua mengenai sahabatku yang hobi jalan-jalan. Orangnya mudah bosan dengan suasana dan rider akhwat yang pemberani. Hampir semua rumah kawan-kawan sekelas dikunjunginya. Nampaknya hanya rumah kawan yang di Kalimantan yang belum sempat ia sambangi. Ketika ia meninggal dunia –karena sakit parah-, semua kawan merasa kehilangan. Beliau sendiri sudah menjengukku tiga kali terhitung setelah tamat SMA, sementara aku baru mengunjungi rumahnya dua kali; saat main bersamanya dan men-takziyah-inya. Kupikir silaturahmi (traveling) telah ia jadikan sarana menyimpan amal tersembunyi. Maasya Allah, sebuah hobi yang mendatangkan berkah. Dan amal tersembunyi ini pelajaran persiapan mati no 2 ku.

Kisah terakhir adalah kisah kematian seorang hafiz, kawan satu angkatanku. Ia meninggal saat terjatuh di kamar mandi. Ada banyak dugaan ia sakit ini-itu seperti yang biasanya mengalami hal serupa. Namun ada kejadian jasadnya menguarkan aroma harum –ini cerita salah satu guruku-. Maasya Allah, nampaknya al Quran yang ia hafal telah mengharumkan dirinya. Sungguh aku sangat iri. Akankah aku menguarkan wangi harum saat tak bernyawa nanti? Nampaknya aku harus segera merevolusi interaksiku dengan Quran, adalah pelajaran persiapan mati no 3.

Bagiku, kematian adalah kepastian. Tinggal pilih cara menyambutnya saja. Ada yang akhirnya dilupakan, ada yang dikenang dan ada yang dianggap sebagai pahlawan. Apapun itu, aku ingin sekali kematianku nanti ditangisi, bukan dinanti. Aku ingin memberikan banyak kontribusi, semoga darah pahlawan islam mengalir kental dalam darahku.

Selamat Hari Pahlawan.

pahlwan
sumber: sastrasipilindonenesia.worrdpress.com